Minggu, 07 Agustus 2016

Pemimpin Negara


Pemimpin negara.

PM Yunani, Alexis Tsipiras. Gambar untuk pemanis, merdeka.com

-Pertama, sekarang gue udah berada di kelas XI (sebelas), mengambil jurusan IPS, jurusan yang gue penginin semenjak SD. Ya memang saat SD gue sudah kepikiran buat memilih jurusan, walaupun dasar kenapa gue memilih itu ya karena gue cinta mata pelajaran IPS. Simply

Pembagian jurusan, semua nama siswa akan di kocok dan akan teracak, random, dan akhirnya gue dapet kelas baru, XI IPS 5. Eits eits, tunggu, ada sedikit cerita yang gue pengin cerita tentang pemilihan jurusan ini, tapi nanti ya dibawah.

Dari kelas X.3 gue akan berimigrasi ke XI IPS 5. Kelas baru, temen baru, suasana baru, sempak baru. Awalnya sih gue sempat merasa gak suka dengan suasana kelas baru gue ini. Seperti ada perasaan yang berbeda dan tidak mengenakkan itu, namun gue yakin perlahan pasti itu semua akan hilang. Di kelas yang sebelumnya juga gitu, gue merasa enggak biasa dengan kondisi suasana kelas baru, namun perlahan hilang dan bahkan diakhir semester, disaat kita akan mengambil jurusan, rasa tidak ingin meninggalkan kelas itu muncul. Yah begitulah. Intinya sih: Jalani dengan baik, nikmati, dan enjoy.

Bicara soal kelas baru, lagi-lagi gue kembali dipercaya sebagai pemimpin negara di kelas (baca: ketua kelas). Entah mengapa, padahal disaat pemilihan perangkat kelas yang dilakukan secara polling seluruh anggota kelas, gue sama sekali tidak kenal satu sama lain, ada juga sih yang kenal tapi tidak semuanya. Di akhir polling nama gue yang paling puncak dan berhak untuk menduduki kursi ketua kelas. Namun tak masalah sih, jadi ketua alhamdulillah, enggak jadi ketua tidak apa-apa. Menagapa gue malah bersyukur kalo jadi ketua kelas? Jawabannya adalah dekat dengan guru. Kan sering kalo ada apa-apanya di kelas itu, yang dipanggil ketua,

"Kemaren anggota kelas piket semua kan?"

"Hari ini yang absen siapa aja?

"Ambil buku latihan teman-teman ke ruang guru"

Jadi, dengan menjadi ketua kelas, semakin intens lah interaksi gue bersama guru-guru. Kalo lo diangkat jadi pemimpin di kelas? Gak ada salahnya kok, jalani aja.

Tapi, yang gue keselin, ketua kelas tetap melaksanakan piket kelas disaat bel sudah bunyi. Kenapa ketua dibebas tugaskan saja perihal piket ini? Waktu kelas tiga SMP dulu, gue dibebasin buat enggak piket, tetapi teman lainnya harus piket dan gue berhak pulang duluan #BOOM #ThugLife. Entah mengapa gitu gue juga gak tau, udah kebijaksanaan walas gue waktu itu, makasih bu.

Tapi sih itu dulu, sekarang mah kagak

#KangenJadiKetuaBebasPiket

-Kedua, singkat cerita, iya gue mau cerita singkat,

Jadi, gini,
Sebelum akhir semester 2 beberapa bulan yang lalu, guru BK (Bimbingan Konseling) yang mengajar di kelas gue sudah memberikan formulir pemilihan jurusan. Di formulir itu tertera identitas diri yang harus diisi, dan pertanyaan-pertanyaan seputar jurusan. Mulai dari mengapa memilih jurusan tersebut, pelajaran di jurusan tersebut yang paling di sukai, dan jurusan apa saja yang diinginkan disaat kuliah selepas SMA nanti. Lalu gue bawa formulirnya pulang dan gue mulai mengisinya, gak perlu pikir panjang, gue mantap mencentang jurusan IPS. Dibawah formulir langsung ditandatangani oleh orang tua.

Beberapa hari kemudian, disaat penerimaan rafor, wali kelas meminta kepada siswa untuk mengkonfirmasi kembali jurusan yang dipilih, apakah ada yang pengin ganti jurusan, dll masih diperbolehkan. Namun gue tetap teguh untuk memilih jurusan IPS. Dan IPS sudah tercentang, gue resmi jadi anak Sosial.


TAPI,


Beberapa bulan saat itu, yak tahun ini liburan semester 2 memang cukup lama karena berbenturan dengan liburan lebaran. Senin, tanggal 18 Juli 2016, gue harus ke sekolah buat mengurus pendaftaran ulang untuk menentukan di kelas mana gue nantinya. Daftar ulang hari pertama panjangnya udah kayak uler!



Namun gue punya ide, gue nitip aja rafor sama uang daftar ulangnya ke temen gue, lalu gue terhindar dari antrian panjang yang udah kayak uler tadi. #BOOM. Setelah beberapa waktu akhirnya kelar, gue udah dapet bukti pembayaran dan kertas bukti daftar ulang itu udah di tangan gue dan,

dan, gue seketika terguncang,


"MUHAMMAD AFIF, KELAS XI IPA 1"


Apa?

Siapa?

Dimana?

Kenapa?

Kapan?

Bagaimana?

5W+1H


APA?

Kok, gue masuk IPA? Bukannya gue di formulir penjurusan milih jurusan IPS? Apa gue salah centang waktu itu? Seketika gue dibayang-bayangi oleh pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Akhirnya gue berkonsultasi dengan wali kelas terlebih dahulu, gue menyebutkan persoalan yang gue alami. 

Padahal ya, nilai IPA semester 2 hanya Biologi yang menginjak angka 85, Fisika 76, Kimia 77. Nilai IPS gue Sosiologi, Ekonomi, Geografi 90 semua. Jadi apa yang membuat gue dimasukkan ke kelas IPA padahal pilihan gue IPS? Ada kakak kelas yang cerita tentang faktor yang bisa membuat seorang siswa itu masuk IPA karena sikap. Gue teliti lagi, bisa jadi ya gue masuk IPA karena sikap. Sikap disini bukan siswa yang lipet tangan saat belajar, tapi ya standar lah buat masuk IPA, gimana ya jelasinnya, ya begitulah, tapi bukan berarti anak IPS nakal ya, banyak juga kok yang baik, dan ganteng kayak gue

Setelah diurus, gue bisa hijrah ke IPS, #ImSocial #AnakIPSGanteng

Salam satu jurusan, anak IPA. Kita sama-sama sukses kok. Tapi pas kuliah jurusan IPS jangan diembat ya.
Share:

3 komentar:

  1. wah wah wah sosiologi, Ekonomi, Geografi 90 semua
    mau nanya dong
    siapa penemu bumi?
    siapa manusia yang menciptakan uang?
    jelasin kenapa orang yang lebih tua itu engga muda?

    BalasHapus
  2. Hahaha, oh penjurusan sekarang milih ya ?
    Kalau dulu di sekolah gue ada tes psikologi sama dilihat dari nilai.
    Jadi ada standart untuk masuk ke IPA, gak bisa milih.
    Dan kala itu, yang gak masuk IPA jadi pada kecewa.
    Kesannya seperti itulah :(.
    Gue sendiri juga masuk IPA 1 kala itu seneng- seneng gak seneng.
    Seneng karena berarti gue masuk syarat menjadi siswa jurusan IPA, gak senengnya jujur banget nilai-nilai IPA gue sama kayak lo fif, gak lebih dari nilai-nilai mata pelajaran sosial gue.
    Dan gue suka banget sama semua mata pelajaran sosial. Suka banget.
    Akhirnya gue jalanin SMA dengan ngalir gitu aja, gue gak bisa menjadi terbaik karena ya itu kemampuan IPA gue gak sebaik seperti pelajaran IPS.
    Ternyata itu semua ada hikmahnya sih, gue masuk satu jurusan di kampus yang syaratnya harus lulusan IPA. Dan gue menemukan passion gue di profesi gue sekarang. Dan jurusan gue saat SMA lah yang membawa gue kesini.
    Jadi, mau IPA atau IPS semua tergantung individunya, kalau mau bekerja keras ya pasti akan sukses apapun jurusannya dimanapun tempat menuntut ilmunya :D
    Semangat :D

    BalasHapus
  3. semangat belajanrnya ya kakak

    BalasHapus

Komentar disini mah gak banyak aturannya, setelah baca kasih komentar ya. Supaya gue lebih semangat lagi buat nulis! Hehe

-Muhammad Afif